More than just Travel. But also Cultures, Friendship, and Experiences

Showing posts with label Oase. Show all posts
Showing posts with label Oase. Show all posts

Saturday, 22 August 2015

Kemeriahan Festival Negeri Di Atas Awan

"Dieng berasal dari kata Dhi-Hyang  atau dihyang dalam bahasa Sansekerta, yang berarti tanah para dewa. Membuat tempat ini menjadi tempat yang begitu istimewa di era kerajaan Mataram Hindu. Orang-orang dahulu percaya bahwa penduduk di daerah tersebut adalah titisan para dewa. Khususnya bagi mereka yang memiliki rambut gembel.” 

Kabut mulai turun menemani senja yang berlalu. Malam merambat dengan dingin yang semakin menggenggam tulang. Bersembunyi di balik selimut yang tebal sambil bercengkrama menikmati segelas jahe hangat tentu nyaman sekali. Tapi tidak untuk malam ini, malam yang makin larut justru membawa kami semakin menggebu menikmati alunan musik jazz di tengah suhu hampir 5°C. Berbekal jaket gunung merk KW, sarung tangan seadanya, kupluk dapat pinjem dari adik dan kaki beralas sandal gunung khas backpacker. Sudjiwo Tedjo melantunkan lagu diacara Jazz Atas Awan yang membuat kami semua mengabaikan udara dingin. Ya, malam itu presiden Republik Jancukers itu memberikan 5 lagunya jelang tengah malam usai di dapuk menjadi pengisi acara pada Dieng Culture Festival 2015 yang dibuka sore tadi. Acara semakin meriah saat Bimbim Slank berada di tengah – tengah kami bersama menikmati Jazz Atas Awan.

Pemotongan Rambut Gembel oleh Bupati Banjarnegara (photo by Dudud Adja)

Langit berbalut bulan biru mengiring kami kembali ke penginapan saat jarum jam menunjuk angka 02.30 dan jalanan masih begitu ramai. Beberapa pelancong dan pendaki gunung yang hendak berburu golden sunrise menerobos angin gunung. Kami putuskan untuk tetap istirahat, perjalanan dari Semarang mengendarai sepeda montor itu cukup melelahkan. Esok pun serangkaian acara masih menunggu untuk kami abadikan dalam jepretan lensa.

Pemotongan Rambut Gembel oleh Sudjiwotedjo (photo by Dudud Adja)

Mentari pagi rasanya tak sabar menyambut kemeriahan Dieng Culture Festival 2015 (daku singkat saja menjadi DCF 2015, capek ngetiknya). Enggan rasanya bangkit dari peraduan tapi pengeras suara di komplek Candi Arjuna sudah memanggil para peserta DCF 2015 untuk turut serta dalam jalan sehat besama bapak Bupati Banjarnegara. Kami bergegas menuju kompleks Candi Arjuna dan disana sudah disediakan purwoceng. Inilah minuman legendaris khas Dieng yang konon katanya bisa meningkatkan vitalitas pria. Hemat ku sih rasanya mirip wedang jahe dengan perpaduan rempah yang kental. Khasiatnya? Jangan ditanyakan lagi, yang awalnya masih menggantuk langsung merasa bersemangat.

Kesenian Jathilan

Selanjutnya kami disuguhi pertunjukan budaya tari jatilan. Bersyukur kami bertemu dengan teman dari komunitas fotografi yang kebetulan menjadi panitia acara. Hingga kami mendapat kesempatan untuk lebih dekat dengan para penari. Hentakan kaki para penari, gemerincing gelang kaki dan cetaran pecut pemimpin tari begitu kuat kami rasakan. Dilanjutkan dengan pertunjukan wayang kulit yang begitu kental dengan dongeng – dongeng khas para dewa. Panggilan alam dari perut yang mulai keroncongan membawa kami keluar. Namun kemeriahan tidak berhenti sampai di situ. Menuju pintu keluar kami disuguhi dengan pertunjukan kuda lumping lengkap dengan adegan kesurupan dan makan belingnya. Dan hari ini aku merasakan how wonderfull my Indonesia. Ini baru di Dieng lho guys, belum di kota lain di provinsi lain dan di pulau lain.

Pertunjukan Wayang Kulit

Sengaja membeli tiket seharga 200 ribu ternyata tidak sia – sia karena kami mendapatkan goody bag, kaos kece DCF 2015, selendang batik, buku acara dan tiket free pass sepanjang acara. Kami tidak membiarkan tiket free pass kami mubazir begitu saja, sembari menunggu pesta lampion dan kembang api kami jalan – jalan ke Kawah Sikidang dan Telaga Warna sengaja untuk bernarsis ria. Disuguhi exotic-nya Dieng Plateu dengan semilir angin gunung yang bukan hanya sejuk tapi dingin. Benar adanya ketika kita menikmati suasana waktu berputar begitu cepat. Tiba waktu kami menikmati indahnya malam dengan keceriaan pesta kembang api dan penerbangan lampion. Dan ternyata lebih penting narsis ketimbang menyalakan lampion. Sebal rasanya karena dimoment yang seru ini justru aku tidak bisa mengabadikannya. Kamera tercinta mengembun akibat perubahan suhu yang drastis, poor of me.

Kami sengaja tidak mendirikan tenda meski dari tiket kami dapat jatah satu petak area di Candi Arjuna untuk mendirikan tenda. Didalam ruangan tertutup saja dingin nya bukan main apalagi di tenda. Kami juga ingat usia yang sudah uzur, jadi ketimbang cari penyakit kami cari aman. Keberangkatan ke Dieng kali ini bersama dua orang teman yang sama sekali belum pernah ke Dieng. Alhasil seorang teman dengan manjanya minta diantar ke Sikunir untuk sekedar memotret sunrise. Sudah kuduga pasti macet, kami berangkat pukul 03.00 WID (waktu Indonesia bagian Dieng) masih 2 km dari parkir utama Sikunir kami sudah terhenti. Kami harus parkir jauh di pintu masuk desa dan berjalan kurang lebih 1 km lagi. Perjuangan belum usai, pendakian Sikunir yang biasanya bisa ditempuh dalam 15 menit harus kami tempuh dalam waktu hampir 1 jam. Membludaknya pengunjung membuat trekking saja kena traffic jam. Dan harus puas ketika hanya bisa  mengabadikan sunrise di spot “sekenanya”. Kondisi dan posisi membuat kami tak dapat memilih dimana kami harus mengembangkan tripot dan memuaskan hasrat  menekan shutter.
Pelepasan Lampion (Photo by Palasara Wisanggeni)

Berburu waktu, setelah merasa puas dan cukup rehat sejenak di warung kopi di kaki bukit kami memutuskan segera kembali untuk mengikuti prosesi pemotongan rambut gembel. Tentunya dengan kesepakatan bahwa dilain waktu kami akan mendapatkan golden sunrise direkaman lensa kami masing – masing. Ritual pemotongan rambut gembel ini dimulai dengan kirap budaya yang dimulai dari rumah pemangku adat dan berakhir di pelataran candi Arjuna. Dilanjutkan dengan prosesi jamasan dimana para anak bajang (anak berambut gembel sering di sebut ) dan berbagai sesaji dan ubo rampe ritual di doakan terlebih dahulu. Usai jamasan masuklah dalam prosesi pemotongan rambut gembel. Tahun ini ada 10 anak yang dilakukan pemotongan rambut gembel.
Kembang Api dan Lampion (Photo by Palasara Wisanggeni)

Anak – anak bajang ini menurut kepercayaan warga Dieng merupaka titisan dari Eyang Agung Kaladate dan Nini Ronce yang merupakan Dewa Pelindung dataran tinggi Dieng. Konon kabarnya jika rambut anak – anak bajang ini dipotong dengan sembarangan anak tersebut akan jatuh sakit dan tidak kunjung sembuh serta mendatangakan musibah bagi keluarga bahkan masyarakat Dieng. Sumber lain ada yang menyampaikan bahwa tanpa ritual maka tidak ada gunting atau pisau yang bisa memotong rambut tersebut. Biasanya anak bajang akan meminta sendiri kapan waktu  untuk memotong rambut gembelnya disertai dengan beberapa permintaan yang harus dikabulkan oleh orang tuanya. Tidak jarang untuk mengabulkan permintaan si anak keluarga, tetangga dan warga sekitar rela mengumpulkan uang bersama.
Sunrise Bukit Sikunir

Keunikan yang kami dapati dari salah satu anak bajang bernama Fitria dari desa Batur Banjarnegara, ia meminta 1 ekor gereh pindang (pindang ikan asin), 1 buah tahu dan segenggam nasi putih dicampur dan diratakan di rambut gembelnya sebelum rambut itu di potong. Sementara anak – anak lain ada yang meminta emas (gelang dan kalung), kambing, sepeda bahkan ada yang meminta satu keranjang apel yang ada didalam kulkas. Rambut anak bajang ini dipotong secara bergantian oleh jajaran struktural Pemkab Banjarnegara. Kehormatan khusus diberikan kepada Soedjiwo Tedjo untuk memotong rambut salah satu anak bajang. Suasana hikmad tiba – tiba menjadi riuh karena bukannya senang si anak malah menangis kencang sambil memanggil ibunya. Rupanya anak ini takut dengan dandanan nyentrik Sang Presiden Republik Jancukers ini.
Para Pemburu Sunrise (photo by Dudud Adja)

Prosesi dilanjutkan dengan melarung rambut anak – anak bajang ke Telaga Warna yang merupakan sumber mata air dari sungai Serayu yang mengalir menjadi satu dengan sungai – sungai di Pulau Jawa dan akan bermuara di Laut Jawa. Warga Dieng percaya bahwa dengan demikian seluruh tanah Jawa akan terberkati. Benar atau tidaknya who knows, tapi itulah tradisi. Mungkin info yang di update ada dua versi pemotongan rambut gembel, yang berpusat di Candi Arjuna dan di Telaga Cebong Desa Sembungan. Secara pasti aku tidak tahu bedanya, namun dari info terpercaya bahwa pelaksanaan di Candi Arjuna merupakan event dari Kabupaten Banjarnegara. Desa Sembungan adalah event dari kabupaten Wonosobo, prosesinya di bedakan karena menurut perhitungan tetua masyarakat Dieng hari pelaksanaan prosesi dikedua kabupaten tersebut berbeda.
Aku dan Candi Arjuna
Find of DCF 2015, rasanya tiga hari itu cepat sekali. Saatnya kembali ke kehidupan nyata, kehidupan manusia yang penuh dengan perjuangan. Berat mengucapkan perpisahan dengan tanah para dewa, negeri di atas awan. Bahkan sampai aku selesai menulis catper ini sudah dua minggu lamanya, masih ada rasa yang kuat tentang budaya, ramah tamah warga, angin gunung, suhu dingin hingga keindahan negeri di atas awan yang mempesona.

Penulis: Amalia Cahya
Twitter: @nerschay
Instagram:  @ners_chay

Tuesday, 7 July 2015

Mencari Surga di Tanah Para Dewa

"Kebersamaan, keindahan dalam sebuah perjalanan. Selalu ingin saya ulang dan nantikan saat-saat seperti ini." (Wahyu Adi Sutrisno)

Saya akan mencoba berbagi kisah perjalanan kami bertiga selama di Dieng pada Kamis 29 Mei 2014 selama 2 hari 2 malam. Perjalanan bus memakan hampir 7 jam dari Semarang menuju Dieng dikarenakan faktor macet dan menunggu bis lewat. Basecamp pendakian gunung Prau Patak Banteng menjadi tujuan pertama.Sekitar pukul 16:00 kami memulai pendakian dan berharap bisa mendirikan tenda di puncaknya dan bermalam disana. Tiga jam pendakian dengan medan yang cukup terjal dan meenguras tenaga. Selama pendakian nampak gagahnya Gunung Sindoro Sumbing, pohon Caricha, kebun-kebun penduduk, dan Telaga Warna dari kejauhan.  Sesampainya di puncak, kami segera mendirikan tenda untuk beristirahat dan bermalam, agar bisa menanti sunrise esok pagi. Suhu puncak Prau terkenal sangat dingin.

Sunrise Gunung Prau

Saturday, 20 June 2015

Review Acara : Semarang Sayang Hiu

"Bukan hanya pemerintah sebagai pembuat regulasi dan nelayan sebagai penyedia produk, kalangan konsumen juga menjadi sasaran kami, karena selama ini hal tersebut menjadi sektor yang luput dari perhatian”. (Riyanni Djangkaru, Campaign Director Save Sharks Indonesia)

“Diperkirakan sekitar seratus juta hiu mati setiap tahunnya karena manusia, salah satunya untuk diambil siripnya”. Kata Teh Riyanni Djangkaru, begitu dia disapa, seorang Campaign Director Save Sharks Indonesia yang menjadi narasumber dalam acara “Nongkrong bareng Itong Hiu: Semarang Sayang Hiu” yang diadakan pada Jumat, 19 Juni di RM. Dapoer Emak, Semarang. Acara ini diadakan oleh Save Sharks Indonesia dan didukung Marine Diving Club (MDC) Kelautan Undip, Greenpeace Indonesia, dan toko outdoor Kaldera.

Foto Bareng Acara Semarang Sayang Hiu

Thursday, 18 June 2015

Kala Beranda Semakin Terik

"Disiplin diri. Mungkin bisa membuatku lebih belajar menghargai waktu dan konsistensi. Memaknai setiap proses dalam pencapaian tiap list-nya. Selalu menjadi manusia yang semakin matang. Bukan menjadi manusia baru"

Aku pulang. Setelah hampir tujuh tahun merantau di Semarang. Sebenarnya tidak dikatakan pulang yang biasa. Karena memang hampir tiap bulan aku pulang ke Solo. Sekedar menjenguk bapak dan ibu di rumah. Tapi sekarang aku benar-benar pulang. Membuang segala penat perantauan agar dapat selalu merawat bapak dan ibu yang sudah memasuki usia senja. Membantu di toko kelontong milik ibu sementara dan kedepannya mencoba peruntungan di kota ini.

Tuesday, 9 June 2015

Talkshow Voluntourism Bareng Traveller Kaskus

"Penting untuk dicatat, bahwa yang penting dalam voluntourism adalah memberdayakan, bukan memperdaya komunitas lokal di tempat-tempat yang disinggahi. Oleh karena itu, berjalanlah dan ingat bahwa seharusnya bukan kita saja yang pantas merasakan kesenangan". (Ridho Mukti, Traveller Kaskus)

Pertumbuhan pariwisata di Indonesia yang semakin pesat memang menjadi salah satu andalan pemerintah dalam menambah pemasukan devisa negara, namun bila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan dampak kerusakan dalam banyak aspek. Cara melakukan perjalanan yang tidak diimbangi dengan pemahaman pariwisata yang berkelanjutan merupakan faktor penting kerusakan ini. Atas dasar seperti itulah, komunitas Traveller Kaskus mengadakan sebuah acara talkshow yang bertema tentang voluntourism. Sebuah konsep yang tidak sekedar jalan-jalan atau travelling, namun juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Monday, 14 July 2014

Siapa Kami ?

Komunitas Backpacker Semarang (BPS) adalah komunitas yang mewadahi para backpacker di kota Semarang dan sekitarnya. Berdiri sejak 27 November 2012 komunitas ini dibentuk dengan tujuan untuk mempertemukan para pecinta traveling di kota Semarang, agar dapat berbagi cerita mengenai pengalamannya ketika mengunjungi suatu daerah, berbagi tips dan ilmu kepada anggota yang lainnya. BPS juga dibentuk untuk membantu para pelancong yang akan berkunjung ke Semarang dengan cara memberikan informasi yang dibutuhkan oleh mereka.
Backpacker Semarang
Sistem keanggotaan BPS bersifat “TIDAK MENGIKAT” siapa saja boleh bergabung dengan BPS baik muda, tua ataupun anak-anak. Untuk mengetahui tentang kami, kalian bisa gabung di grup Facebook Backapacker Indonesia Regional Semarang. Atau kalian bisa follow aku twitter kami di @bpisemarang.

We Are Backpacker Semarang

We Are Backpacker Semarang
Komunitas Backpacker Semarang merupakan sebuah komunitas travelling yang ada di kota Semarang.

Yang Sering Dibaca

Instagram @bpisemarang